僕がいなくても地球はまわってる

Akhir-akhir ini aku merasa hidup di waktu yang berbeda…

Ketika yang lain hidup, aku masih mati

Sementara ketika aku hidup, yang lain malah sudah mati

Suatu hari aku pernah memaksakan untuk hidup di saat sebenarnya aku tak bisa hidup

Karena aku ingin kembali ke ritme kehidupanku yang biasanya

Bersama dengan yang lain

Pada akhirnya meskipun aku hidup, tapi tak ada tanda-tanda kehidupan pada diriku

Itu bukanlah sebuah hal yang besar untuk orang sepertiku

Toh aku tak pernah terlalu memikirkannya

Tapi ketika yang lain mengeluh tentang hal itu

Seketika aku menyadari keterpaksaanku untuk tetap hidup

Ketika ketiadaanku menimbulkan beragam prasangka

Aku yang pada saat itu sebenarnya tak ada tidak bisa mengklarifikasi apapun

Sampai suatu saat aku kembali hidup, semua sudah terlanjur bertambah buruk

Mungkin memang di saat aku tak bisa hidup, sebaiknya aku mati saja ya…

Toh meskipun aku tak ada, bumi tetap berputar…

[PV] STRAIGHTENER – Magic Blue Van

Lagu ini asik juga. Judulnya Magic Blue Van dibawakan oleh STRAIGHTENER. Saya pertama kali mendengar lagu ini dari album Nano Mugen Compilation 2009 yang dibikin oleh Ajikan, tapi setelah gugling dapet juga album mereka yang berjudul Nexus. Kalau mau donlot mampir ke sini aja.

Flying

Aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya terbang dengan sepasang sayap terbentang mengepak untuk menjelajahi keluasan langit-Nya. Tapi aku mungkin tak pernah tahu apa maksudnya dengan ‘terbang’. Aku pun tak tahu apa itu ‘sayap’. Terbang rasanya hanya ada di angan-angan saja. Terkadang hal itu yang membuat aku frustrasi jika terjebak dalam stagnansi. Mungkin rasa frustrasiku itu muncul karena aku tak tahu bagaimana caranya terbang.

Sampai beberapa saat yang lalu aku teringat sosok supervisorku dan pembicaraan kami beberapa hari yang lalu. Beliau adalah supervisorku sejak aku penelitian untuk skripsi sampai dengan sekarang ketika aku telah bekerja di bawah bimbingannya. Sudah empat tahun lamanya aku mengenal sosok perempuan cerdas ini, lama-lama aku merasa diriku mirip dengannya dalam beberapa hal. Mulai dari hal yang remeh sepeti sama-sama punya kebiasaan berjalan cepat dan gerasak-gerusuk, tapi beliau tidak pernah terlihat menabrak pinggir pintu maupun meja :P , dan aku menyadari beliau pun ternyata suka terbang. Kenyataannya beliau pernah merasa terbang berkali-kali, pertama adalah ketika beliau menyelesaikan program sarjana kedokteran hewan, lalu setelah menyelesaikan Ph.D, dan yang paling mengesankan adalah setelah melahirkan anaknya. Menurutnya terbang itu adalah perasaan enteng, lega ,puas dan sangat bahagia, setelah kita selesai mengerjakan sesuatu dengan bersungguh-sungguh dan mengerahkan segenap usaha. Tak hanya untuk hal-hal yang besar, bahkan ketika ia melihat tanaman hias yang dirawatnya berbunga, ia pun merasa terbang.

Seketika aku merasa tertohok, menyadari sedemikian dekatnya jawaban itu. Jika ‘terbang’ memang seperti yang beliau katakan, bisa jadi aku memang pernah terbang… setidaknya sekali. Aku pernah sedemikian bahagia dan leganya ketika namaku tercantum di koran sekitar tujuh tahun yang lalu, atau ketika ada yang mau membiayai studiku, aku pun loncat-loncat kegirangan. Dan yang terbaru mungkin sebulan yang lalu saat selesai mendesain rencana penelitian dan supervisorku ternyata menyetujuinya. Rasanya memang seperti terbang, saat seluruh upaya yang telah dikerahkan terbayar dengan hasil seperti apa yang diinginkan. Mungkin memang itu yah artinya terbang…

Agak berbeda dengan definisi terbang di benak aku selama ini, tapi terbang yang ini rasanya lebih manusiawi. Bukan untuk berpindah tempat secara horizontal, jika demikian namanya memang kabur karena aku harus mengulangi dari awal lagi di tempat yang baru. Terbang yang ini memang benar-benar terbang secara vertikal menuju langit di atas sana, dengan menggerahkan segenap tenaga, membebaskan diri dari rantai yang mengikat pada kenyamanan… ya terbang itu memang layaknya keluar dari zona aman. Dan ketika sudah di atas kita tak bisa berhenti mengepakkan sayap karena pasti akan jatuh lagi, tak ada pilihan lain kecuali menambah kemampuan supaya bisa tetap melayang di atas. Pasti rasanya luar biasa ketika melihat diri kita sudah berada di tempat yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Dan aku pun jadi berpikir lagi… mungkin karena di langit itu tak ada pijakannya, maka sekali kita terbang rasanya ingin terus mencapai langit yang lebih tinggi. Karena itulah mungkin kenapa orang-orang seperti professor-professor itu masih ingin lebih, begitu juga dengan prof-ku yang tak kenal lelah mencari hal-hal baru untuk diteliti. Kadang aku bertanya-tanya kenapa mereka begitu mendedikasikan dirinya. Apalagi ketika aku melihat seorang professor berkursi roda yang sering sekali membaca buku di perpustakaan kami, sering sekali aku bertanya-tanya mengapa beliau tidak bersantai saja. Ternyata mungkin memang begitu ya…

Perasaan bahagia dan puas yang mengiringi pengalaman terbang itu mungkin memang bikin kecanduan. Sekali mengalaminya, kita ingin mengalami kepuasan yang lebih lagi. Makanya kita mengincar tempat yang lebih tinggi, karena untuk menggapainya kita perlu berusaha lebih keras, akan lebih lelah, akan lebih menyiksa diri. Namun ketika berhasil, kita akan merasakan kepuasan dan kebahagiaan yang jauh lebih besar. Mungkin memang begitu ya…

Tapi kemudian aku jadi kepikiran…. Sampai di manakah batasnya? Sampai di titik apakah kita akan berhenti? Bahkan professor yang sudah uzur dan berkursi roda itu masih giat menuntut ilmu. Rasanya memang benar… batasannya hanya sampai Tuhan memisahkan roh dari jasad ini. Tuhan tak pernah memberikan batasan ke mana kita akan terbang karena langit-Nya memang tak berbatas. Tapi manusia sendirilah yang memberikan batasan untuk dirinya sendiri dengan menentukan keterbatasannya….

Seperti beberapa patah kata bijak berikut yang seketika membuka pikiranku untuk bisa menuangkan seluruh pikiran aneh ini dalam tulisan. Beberapa baris kalimat yang tertulis di halaman pembuka buku The Art of Racing in the Rain

“Dengan kekuatan pikiranmu,
tekadmu,
nalurimu.
dan juga pengalamanmu,
kau bisa terbang sangat tinggi”

~Ayrton Senna~

空を飛べる時は楽しかったから、 何回もこの小さな翼で飛びたい。。。

.

.

.

Kibou no Saku Oka Kara – Aqua Timez

Setiap aku mendengarkan lagu ini, rasanya seperti sedang berada di tempat yang tinggi sambil memandang jauh ke bawah, tapi pada saat yang bersamaan bisa menatap langit yang terasa lebih dekat.

Haaa… 大好き だ ^_^

Currently Listening to flumpool

Alkisah dua hari yang lalu saya main-main ke forum langganan untuk.. yah bisa lah… untuk donlot lagu-lagu jejepangan. Awalnya cuma kepengen nyari Ajikan yang Nano Mugen Compilation 2009, tapi iseng juga pengen cari lagu-lagu dari band yang belum pernah saya dengar. Iseng deh menjajal lagu band yang bernama flumpool ini, mmm ceritanya kurang lebih sama seperti saat dulu menemukan Monkey Majik.

Yang membuat saya tertarik terhadap flumpool adalah deskripsi tentang band ini…

Artist: flumpool
Genre: Rock
Sounds Like: NICO Touches the Walls, C-999, lego big morl

Yup yup… tulisan yang dicetak tebal itu :P . Karena saya suka musik-musiknya NICO Touch the Walls, jadi mungkin juga bisa menikmati musiknya flumpool.

Member:

Ryuuta Yamamura (vokal dan gitar)
Kazuki Sakai (gitar)
Genki Amakawa (bass)
Seiji Ogura (drum)

Profil lengkapnya bisa dibaca [di sini] atau [di sini]

Setelah didengarkan ternyata musik mereka agak-agak berbeda dengan NICO. Kalau NICO beraliran rock, sedangkan flumpool kalau menurut saya lebih ke genre pop-rock. Dengan musik yang ga terlalu keras tapi tetep ear-catchy, lebih easy listening sih. Suara vokalisnya pun lumayan unik, dia juga lumayan cute :oops:   :P . Suaranya agak sedikit sengau, tapi tidak sesengau suaranya Futoshi vokalisnya Aqua Timez. Gimana yah, susah dijelaskan dengan kata-kata. Kalau begitu silahkan dengarkan sendiri…

Lagu ini berjudul Labo *entah apa artinya* merupakan single indie kedua mereka yang dirilis pada 27 Agustus 2008, lagu ini juga masuk ke mini-album mereka yang berjudul Unreal. Yang saya suka dari lagu ini adalah melodinya yang unik, ear-catchy and perfectly addicting *_*. Unfortunately I haven’t read the translation yet, but it looks like the song has a such deep meaning *sotoy* :P .

Lagu Hoshi ni Negai wo juga enak.

Lagu ketiga yang menjadi favorit saya adalah single terbaru mereka MW ~Dear Mr. & Ms. Picaresque~.

Mantabh kan lagunya ;) *two thumbs up*

Tapi sepertinya ga banyak yang tahu tentang band ini, jadi ga ada temen buat berdiskusi *jah* :lol: . Apakah ada yang suka juga dengan flumpool?? *seeking new partner in crime* :D

Taisetsu na Mono o Sagashiteru

Di dalam hidup, manusia selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Hal-hal yang nampak berharga seakan-akan bergelimpangan di depan mata. Tuhan amat baik hati pada saat itu. Mungkin kita bisa saja mencomot yang manapun juga dan menyimpannya dengan rapih di dalam rak kehidupan. Tapi apakah sesederhana itu? Tinggal comot apa yang ada di depan mata?

Ya, mungkin memang benar tak selamanya tabung-tabung kesempatan itu bergeletakkan dengan seenaknya begitu toh kapan-kapan kalau saya mau tabung itu bergeletakkan, tinggal tumpahin aja di meja, gampang toh. Jadi mumpung ada, yah sayang kalau tidak diambil. Tapi apakah sesimpel itu?

Saya mengenal seseorang yang selalu mengambil apapun yang ada di depan matanya. Alasannya adalah ia ingin mencoba siapa tau itu memang hal yang ia cari. Saya tidak ingin mengatakan ia serakah, tapi perlu diingat kapasitas kehidupan kita terbatas, perhatian kita terhadap hal yang diminati pun terbatas, dan energi kita terbatas untuk menjaga semuanya. Rak tabung kita terbatas untuk menampung semuanya. Malahan bisa saja semua tempat hampir terisi penuh padahal hal yang paling kita cari-cari itu belum ditemukan. Dan ketika akhirnya kita menyadari hal itu, maka tak ada pilihan lain untuk membuang sebagian yang kita miliki untuk memberi ruang kosong tempat hal-hal berharga yang memang kita cari-cari. Dan itu kejam!

Jadi mengapa sejak awal harus mengambil apa yang sudah disadari tidak terlalu penting, jika nantinya hanya akan dibuang. Biarlah itu berada di wilayah luar, terlindung tak terjamah tangan lembut namun sekaligus menyakitkan. Mengapa tak lepaskan saja, biarlah ia diraih tangan lain yang akan menjaganya dengan lembut tanpa niat menyia-nyiakannya. Jika sejak awal tak menganggapnya penting, mengapa masih saja mempertahankannya hanya karena keegoisan semata. Padahal dengan matanya yang jalang, ia masih mencari-cari hal terpenting baginya.

Tak bisa dipungkiri, tak bisa dihindari, kita akan menyentuh kehidupan orang lain. Kita harus memeriksa, mengenali satu persatu tabung-tabung itu, untuk mencari sesuatu yang berharga itu. Saat menyentuhnya, kita mungkin menyakitinya. Dan saat melepaskannya, rasa sakit itu tak mungkin bisa diabaikan. Seandainya bisa melepas dengan lebih lembut, tapi meskipun begitu pasti akan terasa juga. Dilepaskan rasanya seperti tidak dibutuhkan, merasa tidak berharga untuk dimiliki. Karena itu rasanya lebih bijaksana sedikit menyentuh jika tak berniat mendekap. Daripada langsung mendekap tapi akhirnya malah mendepak.


Taisetsu na mono o sagashiteru…

Mencari apa yang benar-benar kita inginkan pasti amat melelahkan. Seperti yang saya lakukan kemarin, mencari satu tabung dengan kode 31-23 di antara sekitar 200 tabung lebih yang berserakan di atas meja :| . Sampai mata jereng-jereng, pada percarian pertama saya tidak menemukannya. Kemudian setelah diulangi untuk yang kedua kalinya, masih belum ketemu juga. Rasanya pengen matahin meja :evil: . Lama-kelamaan mata saya yang letih sudah tak bisa fokus lagi, membuat kesabaran saya habis, dan perasaan makin emosional. Saat seperti itu saya menyadari tak bisa lanjut mencari, karena perasaan emosional yang negatif hanya akan mengaburkan pandangan dari apa yang kita cari. Teringat nasehat salah seorang sahabat ketika saya mengeluh lelah, beliau berkata dengan entengnya “Kalau cape yah istirahat!”

Memang demikian… Letih memaksakan diri mencari di tumpukan 200 tabung, marah pada diri sendiri mengapa tak bisa menemukan hal yang jelas-jelas ada di sana. Rehat sejenak, bukan kabur dari realitas, cuma sejenak menghela napas…

Haaaaaaaaahhhh…..

Tapi kerjaan masih banyak dan deadline makin mendesak…. Aarrrgghhhh…